COFFEE LATTE HAZELNUT
Hari berganti hari, dan perkenalan Tita dan Raka pun berlanjut. Setiap hari intensitas Raka menghubungi Tita pun semakin meningkat. Hampir setiap jam Raka mengirimkan sms untuk Tita. Bahkan tak jarang Raka menelepon Tita subuh hanya untuk membangunkan Tita agar Tita tidak kesiangan sampai di kantor. Tita tidak bisa memungkiri kalau Raka cukup menyenangkan meskipun mereka belum pernah bertemu. Hingga pada suatu hari Tita dan Raka bersepakat untuk bertemu.
Tita sebenarnya tidak terlalu bersemangat bertemu dengan Raka. Tita takut pertemuan ini mengecewakan. Tetapi Tita berusaha mendoktrin pikirannya bahwa pertemuan ini untuk menjadi teman dan tidak lebih. Dengan mengenakan kaos biru dan jeans seadanya Tita mulai bersiap.
Dalam perjalanan menuju plaza semanggi Tita terus berusaha menenangkan hatinya. ”aduh gue gak boleh grogi, pokoknya ini hanya untuk teman!!” guman Tita dalam hati.
Sesampainya di plaza semanggi Tita mengirimkan sms kepada Raka ”kamu sudah dimana? Aku sudah di semanggi ya”.
Raka pun menjawab ”Aku masih dikos Sari, nunggu dia selesai mandi”.
”Hmmm...dikos Sari rupanya, baiklah aku cari tempat ngobrol yang enak dulu deh” guman Tita dalam hati.
Mata Tita tertuju pada dunkin donuts dan akhirnya Tita memutuskan untuk menuggu Raka dan Sari disana. Tita mulai melihat deretan kopi yang ada disana. ”hmm...pengen coba coffee latte hazelnut ahh, sepertinya enak”. Tita pun memesan coffee latte hazelnut dan sepotong donat.
”Hmmm...enaknya kopi ini”.
Setelah menuggu cukup lama Sari pun tiba. Bersama seorang pria bertubuh tinggi besar yang mengenakan jeans biru, kaos putih lengan panjang, sendal gunung eiger hitam dan tas ransel ala perwira.
”Hi..cewe...maaf ya eike lama..” sapa Sari dengan senyum mengembang tanpa merasa berdosa telah membiarkan Tita menunggu lama.
“Hmm...abis luluran bu? Lama amat mandinya”
“Biasa lah cuinn..klo wanita emang harus lama dikamar mandi..hahaha...oiya kenalin ini temanku Raka”
“Hi..Raka” sapa Raka sambil tersenyum mengulurkan tangannya
“Hi,,Tita” balas Tita sambil menyambut uluran tangan Raka.
Raka pun mengambil tempat duduk persis berhadapan dengan Tita.
“Aduhh...ini cowo kenapa duduk didepan gue sih, aduh bikin grogi aja” dumel Tita dalam hati.
Tak lama Raka dan Sari pun memesan minuman. Sari memilih hot cappucino dan Raka memesan hot chocolate. Obrolan pun mulai mengalir. Sari mulai melancarkan aksi makcombangnya. Tak henti-hentinya Sari menceritakan tentang sifat, karakter, hobi, bahkan seluruh kegiatan Tita selama di kampus. Raka terlihat begitu antusias mendengar semua cerita Sari tentang Tita.
”Jadi ka, si Tita ini hobinya dari kuliah belajarrrr mulu. Beda lah sama gue yang pemalas. Doi juga aktivis kampus mulai kegiatan rohani sampe sekuler diikutin semua. Pernah jadi bendahara umum PMKP, pernah jadi Wapres BEM, sering ikutan lomba-lomba sampe tingkat nasional, dan sekarang jadi guru sekolah minggu. Nah kurang apalagi coba??” ujar sari dengan gaya marketingnya.
Raka tesenyum penuh kekaguman dan sesekali melirik ke arah Tita.
Tita hanya pasrah menahan rasa malu dan tidak sanggup menghentikan aksi ”promosi” sahabatnya itu. Tak jarang mata Raka dan Tita bertemu pandang, namun secepat mungkin Tita mengalihkan pandangan ke tempat lain.
”Tapi ka lo harus tau, sirkuit otaknya si Tita nih pendek, jadi ga bisa diajak ngobrol yang berat-berat..langsung tulalit doi..hahaha...” ujar Sari meledek Tita.
Raka tertawa mendengar istilah ”sirkuit otak pendek” Tita.
”Oh jadi Tita bisanya diajak ngobrol ringan aja ya?” tanya Raka sambil melirik Tita.
”Iya cuy,,,yang enteng-enteng aja ka, klo diajak ngobrol berat langsung demam dia...hahahaha”
Tita hanya tertunduk malu mendengar Sari menceritakan ”kapasitas otaknya” yang memang sangat minimalis.
Menjelang sore Raka pun pamit pulang. Tita dan Sari mengantar Raka sampai ke pemberhenantian bus.
”Oke aku pulang dulu ya, makasih ya” ujar Raka pada Sari dan Tita.
Sebelum beranjak pergi, pandangan Raka dan Tita bertemu. Pandangan Raka kali ini begitu berbeda, seolah mengisyaratkan sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan namun dapat Tita rasakan. Saat itu jantung Tita mendadak berdetak begitu kencang.
”Woy,,kok benggong bu?” tanya Sari
”Hehehe...gak apa-apa inang”
”So menurut lo Raka gimana? Suka ga?”
”Hmm...so far menyenangkan”
”Suka ga??”
”Hmm....yang pasti menyenangkan”
”yeehh...ditanya suka apa enggak kok jawabnya menyenangkan doank?! cape deh”
”Hehehe...udah ah ayo kita kerumahmu”
Setiba di rumah Sari, Tita bertemu dengan Rio adik Sari yang sedang sakit. Tita begitu terkejut melihat kondisi Rio. Sari hanya bisa tersenyum mencoba menghibur hati Rio. Tita pun tak mampu berkata apapun. Tita hanya berbincang sebentar dengan Rio karena tak lama Rio pun pamit kembali ke kamar.
Tidak berapa lama setelah Rio kembali ke kamar, BB Tita berdering sms dari Raka,
”Tita makasih ya buat ngobrolnya, nice meeting”
”Iya sama-sama, kamu udah sampai?”
”Belum, oiya kamu masih dirumah Sari?”
”yups..”
”Pulang jam berapa?”
”Belum tau, paling sebentar lagi”
”Oke hati-hati ya”
”Iya makasih”.
Sekitar pukul 8 malam Tita pun pamit pulang. Dalam perjalanan pulang Raka kembali mengirimkan sms pada Tita,
”Tita sudah pulang?”
”Sudah, tapi masih dijalan”
”Sudah sampai mana ta?”
”Masih daerah mampang ka”
”Ohh..ta aku boleh nanya sesuatu ga?”
”Boleh, mau nanya apa?”
”Menurut kamu aku orangnya gimana?”
”Mana aku tahu, kan baru sekali ketemu.”
”iya kesan kamu hari ini lah.”
”Hmmm...so far kamu menyenangkan, kenapa toh?”
”Gak apa-apa, ta boleh nanya lagi ga? Tapi agak pribadi?”
”Apa??”
”Hmm...kamu udah punya pacar belum? Atau mungkin sedang ada yang pendekatan? Sori ya klo aku to the point, aku cuma gak mau ganggu aja kalau kamu sudah ada yang punya”
Tita terkejut membaca sms Raka yang baru diterimanya. Tita mulai berfikir dan bertanya apa maksud sms Raka itu. Tak lama Raka kembali mengirimkan sms,
”Hey kok diem aja? Maaf ya kalau pertanyaanku terlalu pribadi..kalau ga mau jawab gak apa-apa kok”
”Hmm...gak apa-apa kok ka. Kalau pacar aku belum punya, tapi cowo yang pendekatan wah aku gak tau juga. Kalau aku bilang ada nanti kesannya aku kegeeran, so aku ga tau”
”oh begitu,,,oke deh, makasih ya buat jawabannya.”
”sama-sama.”
Sesampainya dirumah, mama sudah menuggu dengan resah.
”kok pulangnya malam ta? Ini kado paskah buat anak sekolah minggu besok belum mama bungkusin semua loh”
”Iya ma maaf tadi aku kerumah Sari dulu. Ya udah gak apa-apa ma nanti aku bungkusin semua deh”.
Tita pun mulai membungkus kado-kado sekolah minggu yang akan dibagikan besok pada acara Paskah. Tak lama Raka kembali mengirimkan sms,
“Sudah sampai ta?”
“Sudah”
“Lagi ngapain?sudah tidur ya”
“Belum, aku masih bungkusin kado buat paskah besok”
“Memang kadonya banyak?”
“Banget”
“Andaikan aku bisa bantu, pasti aku bantu hehehe...”
“Hehehe...makasih ya, kamu lagi apa?”
“Aku lagi nonton, maklum dirumah saudara gak enak kalau langsung tidur”
“Oh begitu”
“Iya, ya udah kamu bungkusin lagi kadonya ya”
Tita kembali membungkus kado-kado yang jumlahnya sangat banyak. Menjelang tegah malam Raka kembali mengirimkan sms,
”Ta udah selesai?”
’Belum”
”Masih banyak?”
”Sedikit lagi”
”besok berangkat jam berapa?”
”jam 8 berangkat dari gereja”
”aku boleh ikut ga?”
”Hmmm...kan kemarin udah aku bilang kasian kamu nanti cuma benggong sendirian. Aku kan pasti repot dan ga bisa nemenin kamu”
”Ya udah deh gak apa-apa”
“Maaf ya ka, lain kali aku ajak deh”
”Oke deh makasih ya. Oiya sudah malem, aku udah ngantuk, aku tidur dulu ya”
”Oke, met istirahat, Jbu”
”Kamu juga ya jangan tidur kemaleman. Gbu2”
Setelah menyelesaikan semua kado-kadonya, Tita merebahkan tubuhnya ditempat tidur. Tita memandang langit-langit kamarnya. Kembali Tita memikirkan Raka. Meskipun singkat Tita begitu menikmati pertemuan dengan Raka. Tetapi dalam hati yang terdalam masih tersimpan rasa takut pada diri Tita. Luka dimasa lalu masih begitu terasa dihati Tita. Tidak mudah bagi Tita menata kembali hatinya yang pernah hancur. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Tita untuk dapat kembali bangkit dari keterpurukannya. Namun saat ini Tita tidak mampu mengingkari sosok Raka yang begitu ramah mampu mengusik hati dan pikirannya.
the place when we met for the first time